Jum’at, 30 Mei 2025. 20:23 WIT.
HAL-TENG PERS | TIPIKOR.ID — Setelah sekian lama memilih diam di tengah dinamika dan tekanan berbagai kepentingan, Rusli Ishak akhirnya angkat bicara. Menyikapi hasil riset lembaga lingkungan Nexus3 terkait dugaan paparan logam berat yang berdampak pada warga dan ekosistem Teluk Weda, Rusli—salah satu representasi generasi muda Halmahera Tengah—menyatakan bahwa temuan tersebut harus menjadi alarm serius bagi semua pihak.
“Bagi kami, hasil riset ini adalah alarm. Bukan sebagai bahan debat. Ini saatnya kita memulai langkah nyata. Sudah waktunya kita melahirkan alternatif sebagai solusi, agar upaya penyelamatan generasi ke depan benar-benar bisa terwujud,” tegas Rusli.
Ia menyoroti kecenderungan publik yang kerap terjebak dalam debat kusir yang tidak menghasilkan solusi konkret.
Menurutnya, kebiasaan itu justru memperburuk situasi dan mengaburkan urgensi persoalan yang sedang dihadapi.
“Kami melihat, dalam menyikapi berbagai problem sosial yang muncul, kita justru terjebak membahas masalah sebagai ‘racun’ di dalam kepala kita sendiri. Padahal, setiap persoalan seharusnya tidak menjadi beban mental, tapi mendorong kita menemukan ‘obat’—yakni solusi yang menyembuhkan,” ujarnya.
Lebih jauh, Rusli menekankan bahwa temuan terkait dugaan pencemaran logam berat tidak bisa dipandang sebelah mata. Ini bukan sekadar isu lingkungan, tetapi mengingatkan kita semua menyangkut hak dasar masyarakat atas hidup sehat, akses terhadap air bersih, dan kelestarian ekosistem pesisir.
Sebagai bagian dari generasi muda, ia menilai bahwa momentum ini harus dijadikan titik tolak untuk memperkuat posisi tawar terhadap pihak perusahaan maupun pemerintah pusat.
“Selama ini kita terlalu sibuk saling menyalahkan, tanpa sadar kita juga ikut menikmati hasil dari investasi—baik dalam bentuk Dana Bagi Hasil (DBH), CSR, maupun aktivitas ekonomi lainnya. Namun saat dampaknya mulai terasa, kita justru kehilangan arah dalam menyikapinya. Ini harus diubah,” jelasnya.
Rusli juga mengkritisi munculnya narasi-narasi yang justru memperkeruh situasi. Salah satunya adalah pernyataan Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Halmahera Tengah yang dilansir dari salah satu media online. Dalam komentarnya, Kadis DLH meragukan metode pengambilan sampel ikan oleh tim Nexus3. Ia menyebut bahwa ikan yang diuji tidak ditangkap langsung dari laut bersama nelayan setempat, melainkan dibeli di pasar—sehingga membuka kemungkinan bahwa ikan tersebut berasal dari luar Weda.
“Yang menjadi pertanyaan, apakah pernyataan Kadis DLH ini bisa dipertanggungjawabkan? Apakah Kadis menyaksikan secara langsung bahwa ikan itu dibeli dari pasar? Jangan sampai pernyataan seperti ini justru menyesatkan dan melemahkan urgensi persoalan yang sedang kita hadapi,” kritik Rusli.
Ia berharap semua pihak, baik masyarakat, pemerintah daerah, perusahaan, hingga pemerintah pusat, dapat duduk bersama dan membangun forum dialog terbuka yang independen serta berorientasi pada penyelamatan lingkungan Teluk Weda secara adil dan berkelanjutan.
“Kita tidak bisa lagi menunda. Ini bukan soal siapa yang benar atau salah, tapi soal masa depan anak cucu kita. Mari kita bersatu, berpikir jernih, dan bertindak bersama demi penyelamatan lingkungan dan generasi mendatang,” tutupnya.(Editor: Rosa)

