Rabu, 5 November 2025.19:20 WIT.
HAL-TENG, PERS TIPIKOR.ID — Ironi meski anggaran miliaran rupiah telah digelontorkan untuk pembangunan drainase, genangan air masih menjadi ancaman nyata bagi sebagian warga Kecamatan Weda. Teranyar, pada 5 November 2025, air laut kembali meluap melalui saluran drainase dan menggenangi sekitar jalan taman Kota Weda, padahal cuaca sedang cerah tanpa hujan.
Fenomena itu terjadi sekitar pukul 17:55 WIT, ketika air laut sedang pasang tinggi. Air naik melalui saluran dan meluap ke jalan raya, sementara pengendara harus berhati-hati melintas.
“Air ini bukan dari hujan, tapi dari laut yang masuk lewat saluran. Ini sudah sering terjadi setiap kali air pasang,” ujar Rusdy salah satu warga setempat.
Kejadian ini menambah panjang daftar persoalan drainase di Weda yang tak kunjung tuntas, meski anggaran terus mengalir setiap tahun.
Berdasarkan data realisasi tahun 2023, Pemerintah Kabupaten Halmahera Tengah melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) menyalurkan total Rp 10,68 miliar untuk pembangunan drainase di Kecamatan Weda. Proyek ini terbagi dalam 10 paket utama, dengan nilai kontrak berkisar Rp 199,58 juta hingga Rp 199,85 juta, dan total mencapai Rp 1,797 miliar.
Berikut Bukti Rincian proyek drainase tahun 2023:
- Paket 1: CV Samlonge Pratama – Rp 199,7 juta
- Paket 2: CV Samlonge Pratama – Rp 199,74 juta
- Paket 3: CV Samlonge Pratama – Rp 199,85 juta
- Paket 4: CV Samlonge Pratama – Rp 199,8 juta
- Paket 5: CV Samlonge Pratama – Rp 199,58 juta
- Paket 6: CV Bhakti Gemilang – Rp 199,7 juta
- Paket 7: CV Samlonge Pratama – Rp 199,814 juta
- Paket 9: CV Akfa Pratama – Rp 199,79 juta
- Paket 10: CV Akfa Pratama – Rp 199,8 juta
Selain itu, proyek pembangunan U-Ditch di Kota Weda juga menelan anggaran besar senilai Rp 9 miliar, dengan kontrak Rp 8,882 miliar, dikerjakan oleh CV Zhafirah Persada (No. Kontrak: 600/42/SPP/DRAIN-SDA/APBD-P/DPUPR-HG/XII/2023).
Namun faktanya, sejumlah saluran belum mampu mengatasi luapan air laut maupun limpasan hujan. Beberapa titik seperti Taman Kota Weda masih menjadi langganan genangan setiap kali musim hujan atau air pasang datang.
Fenomena air laut meluap kali ini seakan menjadi “bukti nyata” bahwa perencanaan dan desain teknis proyek drainase belum berbasis kajian hidrologi dan pasang surut laut. Tanpa sistem penahan arus balik (one-way valve) atau peningkatan kapasitas saluran di titik kritis, potensi luapan akan terus terjadi.
“Setiap tahun ada proyek drainase, tapi air tetap meluap. Kalau bukan dari hujan, ya dari laut,” kata Rusdy.
Publik kini menyoroti transparansi dan efektivitas pengelolaan anggaran drainase oleh DPUPR. DPRD Halmahera Tengah diminta untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan proyek-proyek.
Sebab tanpa perubahan mendasar, miliaran rupiah akan terus “mengalir deras” dari kas daerah — sementara sebagian warga masih harus berjibaku dengan genangan, baik dari langit maupun dari laut.
(Editor: Rosa).



