Home / Daerah / Nasional / Regional

Senin, 17 Agustus 2026 - 17:35 WIB

Satu Tarikan Napas Menuju Takdir: Tiga Putra Fagogoru dan Fondasi yang Mereka Tinggalkan.

Oplus_16908288

Oplus_16908288

Penulis: RI Halteng

Senin, 17 Agustus 2026. 18:34 WIT.

HAL-TENG, PERS TIPIKOR.ID — Ada masa ketika Halmahera Tengah harus membangun dari keterbatasan. Ketika kemampuan fiskal daerah masih terbatas dan wajah Weda belum seperti yang dikenal hari ini, seorang arsitek pembangunan bersama putra-putra terbaik Fagogoru mulai menanam fondasi bagi masa depan daerah.

Adalah Ir. H. M. Al Yasin Ali, M.M.T., sosok yang akrab disapa Aba, seorang birokrat, teknokrat, dan mantan kepala daerah yang sebagian besar perjalanan hidupnya diabdikan untuk Halmahera Tengah dan Maluku Utara.

Kini, sang arsitek telah berpulang.

Al Yasin Ali mengembuskan napas terakhir pada Jumat malam, 14 Agustus 2026, sekitar pukul 23.20 WIT.

Kepergiannya bukan sekadar meninggalkan duka bagi keluarga, tetapi juga membuka kembali lembaran sejarah tentang bagaimana sebuah daerah pernah dibangun dari titik yang serba terbatas.

Ketika APBD Masih Sekitar Rp300 Miliar

Pada awal kepemimpinannya sebagai Bupati Halmahera Tengah pada 2007, APBD daerah berada di kisaran Rp300 miliar.

Dalam kondisi tersebut, Almarhum Al Yasin Ali bersama mantan Wakil Bupati Gawi Abbas menjalankan roda pemerintahan dengan satu pekerjaan besar: membangun Halmahera Tengah dari keterbatasan.

Anggaran yang terbilang minim itu harus berhadapan dengan kondisi geografis Weda yang ketika itu belum sepenuhnya siap menjadi pusat pemerintahan.

Hamparan rawa masih menjadi bagian dari wajah kawasan.

Untuk membangun pusat pemerintahan, pekerjaan tidak cukup hanya dengan menyusun perencanaan di atas meja.

Rawa-rawa harus ditimbun. Lahan harus dipersiapkan. Akses harus dibuka. Infrastruktur harus dibangun.

Dari kondisi seperti itulah sentuhan tangan dingin seorang arsitek pembangunan mulai terlihat.

Dengan latar belakang teknik sipil dan pengalaman panjang di birokrasi, Al Yasin Ali memahami bahwa membangun Weda berarti membangun dari dasar.

READ  Belajar dari Kota Ternate, Pimpinan DPRD Halteng Siapkan Strategi Baru untuk Pengembangan Olahraga

Bukan sekadar mendirikan gedung, tetapi mempersiapkan tanah tempat masa depan pemerintahan Halmahera Tengah akan berdiri.

Tanah ditata.

Rawa-rawa ditimbun.

Akses dibuka.

Infrastruktur mulai dibangun.

Pusat pemerintahan perlahan tumbuh.

Weda yang kala itu masih jauh dari wajahnya seperti sekarang mulai diarahkan menjadi jantung pemerintahan Kabupaten Halmahera Tengah.

Membangun Bukan Hanya Infrastruktur, Tetapi Juga Manusia

Namun tantangan ketika itu tidak hanya menyangkut infrastruktur.

Halmahera Tengah juga masih menghadapi keterbatasan sumber daya manusia, terutama dalam memenuhi kebutuhan aparatur pemerintahan.

Al Yasin Ali kemudian melihat bahwa pembangunan daerah tidak akan cukup jika hanya membangun jalan, gedung, dan fasilitas pemerintahan.

Daerah juga membutuhkan manusia yang mampu mengisi ruang-ruang pemerintahan dan meneruskan pembangunan.

Sejumlah putra-putri daerah Halmahera Tengah kemudian diberi ruang untuk mengabdi sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN).

Mereka tumbuh bersama perjalanan pemerintahan daerah.

Sebagian dari mereka yang dahulu memulai pengabdian dari bawah, kini bahkan telah dipercaya menempati posisi strategis, termasuk menjadi kepala dinas.

Di sinilah salah satu warisan Al Yasin Ali menjadi penting untuk dikenang.

Sebab membangun daerah bukan hanya tentang membangun sesuatu yang dapat dilihat mata.

Ada pembangunan manusia yang kelak menjadi penerus pemerintahan.

Jika gedung dapat menjadi simbol pembangunan fisik, maka manusia adalah fondasi yang menjaga agar pembangunan tetap berjalan.

Dari Rp300 Miliar Menuju Rp450–500 Miliar

Perjalanan pembangunan tersebut terus bergerak.

Pada tahun anggaran 2012, ketika Al Yasin Ali menjalankan kepemimpinan bersama Almarhum Wakil Bupati Soksi Hi. Ahmad, APBD Kabupaten Halmahera Tengah telah berada di kisaran Rp450 miliar hingga Rp500 miliar.

Perkembangan tersebut menjadi bagian dari perjalanan fiskal dan pembangunan daerah pada masa itu.

READ  OKNUM PEMUKULAN COGO IPA, DINILAI TIDAK MENGHARGAI ADAT ISTIADAT DI WILAYAH INI.

Dari APBD sekitar Rp300 miliar pada awal kepemimpinan, kemampuan anggaran daerah perlahan berkembang.

Namun, angka tersebut bukanlah satu-satunya hal yang patut dikenang.Di balik angka APBD terdapat proses panjang: menimbun rawa, menyiapkan lahan, membangun infrastruktur, menata pusat pemerintahan, membuka konektivitas, serta membangun sumber daya manusia.

Itulah sebabnya, ketika nama Al Yasin Ali dikenang, yang diingat bukan semata-mata jabatan yang pernah disandangnya.

Tetapi bagaimana seorang teknokrat menghadapi keterbatasan dan mencoba mengubahnya menjadi sebuah fondasi pembangunan.

Tiga Putra dalam Lembaran Sejarah Fagogoru

Dalam perjalanan itu, ada tiga nama yang menjadi bagian dari sejarah kepemimpinan dan pembangunan Halmahera Tengah:

Almarhum Ir. H. M. Al Yasin Ali, M.M.T.

Mantan Hi. Gawi Abbas.

Almarhum Soksi Hi. Ahmad.

Hi Gawi Abbas mendampingi Al Yasin Ali pada fase awal kepemimpinan ketika APBD masih berada di kisaran Rp300 miliar.

Kemudian, pada perjalanan berikutnya, Soksi Hi. Ahmad menjadi bagian dari pemerintahan ketika kemampuan anggaran daerah telah berkembang hingga kisaran Rp450 miliar–Rp500 miliar.

Kini, dua putra Fagogoru tersebut telah berpulang.

Namun sejarah tidak mengenal kematian bagi sebuah pengabdian.

Nama boleh berhenti disebut dalam ruang kekuasaan, tetapi jejak yang ditinggalkan akan terus menjadi bagian dari perjalanan daerah.

Satu Tarikan Napas, Satu Jalan Pulang

Kepergian Al Yasin Ali pada akhirnya mengingatkan kita pada sesuatu yang lebih dalam.

Bahwa manusia boleh merancang masa depan, tetapi tidak pernah mengetahui kapan perjalanan hidupnya akan berakhir.

Jabatan akan berakhir.

Kekuasaan akan berganti.

Anggaran akan berubah.

Pemerintahan akan terus berjalan.

Namun jejak pengabdian akan tetap tinggal.

Dari APBD sekitar Rp300 miliar, dari rawa-rawa yang harus ditimbun, dari lahan yang harus dipersiapkan, dari jalan yang harus dibuka, hingga sebuah pusat pemerintahan yang perlahan tumbuh.

READ  Bhabinkamtibmas Desa Fidijaya Berhasil Amankan Miras Di Kos-Kosan.

Dari keterbatasan sumber daya manusia, hingga lahirnya putra-putri daerah yang kemudian mengisi pemerintahan dan sebagian di antaranya dipercaya menjadi pemimpin di berbagai perangkat daerah.

Di sanalah salah satu bagian sejarah pembangunan Halmahera Tengah pernah dimulai.

Dan kini, sang arsitek telah berpulang.

Pada malam yang sunyi, 14 Agustus 2026, pukul 23.20 WIT, satu tarikan napas telah sampai pada takdirnya.

Satu perjalanan dunia telah selesai.

Dan satu doa kini mengiringi jalan pulangnya kepada Sang Pencipta.

Mungkin inilah hakikat kehidupan:

manusia datang membawa amanah, hidup meninggalkan jejak, dan akhirnya pulang membawa amal.

Mereka telah menanam.

Kini generasi berikutnya memiliki tugas untuk menjaga, merawat, dan melanjutkan apa yang pernah dimulai.

Sebab pembangunan adalah estafet.

Pemimpin boleh berganti.

Zaman boleh berubah.

Anggaran boleh bertambah.

Tetapi fondasi yang telah ditanam akan tetap menjadi pijakan bagi generasi yang datang.

Selamat jalan, Aba.

Semoga seluruh pengabdianmu menjadi amal yang diterima Allah SWT.Semoga segala kekhilafan diampuni.

Dan semoga setiap langkahmu dalam membangun Halmahera Tengah menjadi bagian dari kebaikan yang terus mengalir.

Di tanah Fagogoru, namamu akan tetap hidup.

Dalam ingatan.

Dalam karya.

Dalam sejarah.

Dan dalam doa.

Fagogoru berduka.

Al-Fatihah.

(Editor: Rosa)

Share :

Baca Juga

Daerah

Pengelola Wisata Gua Bokimoruru Semangat Perbaiki Akses Jalan di Tengah Puasa.

Daerah

Bahri Sudirman Besok Bakal Dilantik Sebagai Pj Bupati Halmahera Tengah, Gantikan Ikram Malan Sangaji.

Daerah

Seluruh Siswa Kelas VI SD Negeri 2 Weda Lulus 100 Persen.

Daerah

APH Diminta Usut Dan Periksa “Predator Proyek Jembatan Beton Jalan Sif-Palo Yang Terbengkalai”.

Daerah

Aparat Penegak Hukum Diminta Lidik, Dua Unit Proyek RLH Tahun 2023 di Desa Sidanga.

Daerah

Investigasi Pers Tipikor.id: Ke Mana Perginya Setengah Miliar Uang Rakyat Halteng?

Daerah

Pengadaan Mesin Cetak Batako Mengunakan Anggaran Desa Dipertanyakan.

Daerah

PJ BUPATI Ir. IKRAM MALAN SANGADJI PIMPIN UPACARA 17 AGUSTUS.

You cannot copy content of this page