Ahad, 20 April 2025 | 01:30 WIT
HAL-TENG PERS TIPIKOR.ID — Harga resmi bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertamax telah turun dari Rp13.200 menjadi Rp12.800 per liter, Dexlite, Rp 13.900 per liter, sejak sebelum Lebaran. Namun, penurunan ini tak berlaku di tingkat pengecer, khususnya di wilayah Weda, Kabupaten Halmahera Tengah. Pedagang eceran masih menjual Pertamax dengan harga lama.
Kondisi ini memicu keresahan warga. Mereka mempertanyakan lemahnya pengawasan pemerintah, khususnya Bagian Ekonomi dan Pembangunan (Ekbang), yang dinilai tidak mengambil langkah tegas untuk menertibkan harga.
“Ada apa sebenarnya dengan Bagian Ekbang? Apakah pengawasan terhadap pedagang eceran memang sengaja diabaikan? Atau ada kepentingan lain yang justru merugikan masyarakat?” keluh salah satu warga.
Warga berharap pemerintah daerah segera turun tangan dan melakukan pengawasan ketat agar harga eceran bisa disesuaikan dengan harga resmi yang ditetapkan pemerintah.
“Coba lihat, harga per liter di Desa Lelilef sudah mulai menurun, jauh lebih baik dibanding di Weda yang masih bertahan dengan harga lama,” tulis seorang warga melalui pesan WhatsApp kepada Pers Tipikor.id.
Warga yang enggan disebutkan namanya itu juga menyayangkan sikap pasif pemerintah. Menurutnya, Ekbang seharusnya lebih aktif dalam mengawasi harga kebutuhan pokok seperti BBM, karena langsung berdampak pada masyarakat luas.
“Ketidakhadiran pemerintah dalam pengawasan membuka celah bagi pedagang untuk mengambil untung berlebihan,” pungkasnya. (Rosa)
Yoast SEO
Harga Resmi Turun, Eceran BBM di Weda Tak Berubah: Warga Desak Tindakan Ekbang.Ahad, 20 April 2025 | 01:30 WIT HAL-TENG PERS TIPIKOR.ID — Harga resmi bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertamax telah turun dari Rp13.200 menjadi Rp12.800 per liter, Dexlite, Rp 13.900 per liter, sejak sebelum Lebaran. Namun, penurunan ini tak berlaku di tingkat pengecer, khususnya di wilayah Weda, Kabupaten Halmahera Tengah. Pedagang eceran masih menjual Pertamax dengan harga lama.Kondisi ini memicu keresahan warga. Mereka mempertanyakan lemahnya pengawasan pemerintah, khususnya Bagian Ekonomi dan Pembangunan (Ekbang), yang dinilai tidak mengambil langkah tegas untuk menertibkan harga.“Ada apa sebenarnya dengan Bagian Ekbang? Apakah pengawasan terhadap pedagang eceran memang sengaja diabaikan? Atau ada kepentingan lain yang justru merugikan masyarakat?” keluh salah satu warga.Warga berharap pemerintah daerah segera turun tangan dan melakukan pengawasan ketat agar harga eceran bisa disesuaikan dengan harga resmi yang ditetapkan pemerintah.
“Coba lihat, harga per liter di Desa Lelilef sudah mulai menurun, jauh lebih baik dibanding di Weda yang masih bertahan dengan harga lama,” tulis seorang warga melalui pesan WhatsApp kepada Pers Tipikor.id.
Warga yang enggan disebutkan namanya itu juga menyayangkan sikap pasif pemerintah. Menurutnya, Ekbang seharusnya lebih aktif dalam mengawasi harga kebutuhan pokok seperti BBM, karena langsung berdampak pada masyarakat luas.
“Ketidakhadiran pemerintah dalam pengawasan membuka celah bagi pedagang untuk mengambil untung berlebihan,” pungkasnya. (Rosa)

