Kamis, 10 September 2026.21:43 WIT
HAL-TENG, PERS TIPIKOR.ID — Kabupaten Halmahera Tengah, Maluku Utara, menghadapi sebuah kontras ekonomi yang menarik untuk dibaca lebih jauh.
Sepanjang 2025, ekonomi Halmahera Tengah tumbuh mencapai 62,47 persen.
Angka tersebut merupakan pertumbuhan ekonomi tahun 2025 yang kemudian dipublikasikan Badan Pusat Statistik (BPS) melalui publikasi statistik yang terbit pada 2026.
Pertumbuhan ekonomi sebesar itu menunjukkan tingginya aktivitas ekonomi yang berlangsung di daerah tersebut.
Namun, ketika angka pertumbuhan tersebut disandingkan dengan sejumlah indikator kesejahteraan masyarakat, muncul gambaran yang berbeda.
Penelusuran Pers Tipikor.id terhadap data statistik tahun 2025 yang dipublikasikan hingga 2026 menunjukkan masih adanya persoalan kemiskinan, tingginya kebutuhan pengeluaran rumah tangga, serta ketidakcukupan konsumsi pangan.
Artinya, pertumbuhan ekonomi yang sangat tinggi belum dapat digunakan sebagai satu-satunya gambaran mengenai kondisi kesejahteraan masyarakat Halmahera Tengah.
Pertumbuhan 62,47 Persen, Kemiskinan Masih 9,16 Persen
Berdasarkan data BPS yang bersumber dari Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas), persentase penduduk miskin Halmahera Tengah pada 2025 tercatat sebesar 9,16 persen.
Dari sekitar 61 ribu penduduk Halmahera Tengah, sebanyak 5.610 jiwa, atau 9,16 persen, tercatat sebagai penduduk miskin pada 2025.
Pada tahun yang sama, garis kemiskinan tercatat sebesar Rp647.982 per kapita per bulan.
Angka tersebut merupakan batas pengeluaran minimum yang digunakan dalam pengukuran kemiskinan secara statistik.
Jika sekadar menggunakan gambaran rumah tangga dengan empat anggota keluarga, angka tersebut setara dengan sekitar Rp2,59 juta per bulan. Angka ini merupakan hasil perhitungan matematis dari garis kemiskinan per kapita dan bukan berarti seluruh rumah tangga di Halteng memiliki batas pengeluaran yang sama.
Dengan demikian, di tengah pertumbuhan ekonomi yang mencapai 62,47 persen, masih terdapat ribuan penduduk yang secara statistik tercatat sebagai penduduk miskin.
Rata-Rata Pengeluaran Rp2,21 Juta per Kapita
Gambaran lainnya terlihat dari pola pengeluaran masyarakat.
Data Susenas 2025 mencatat rata-rata pengeluaran penduduk Halmahera Tengah sebesar Rp2.216.767 per kapita per bulan.
Dari total tersebut, pengeluaran nonmakanan mencapai 52,59 persen, atau sekitar Rp1.165.840 per kapita per bulan.
Sementara pengeluaran makanan mencapai 47,41 persen, atau sekitar Rp1.050.927 per kapita per bulan.
Komposisi tersebut menunjukkan bahwa lebih dari separuh rata-rata pengeluaran masyarakat dialokasikan untuk kebutuhan nonmakanan.
Struktur pengeluaran tersebut menjadi salah satu indikator penting dalam melihat kondisi ekonomi rumah tangga, sebab pertumbuhan ekonomi daerah pada tingkat makro tidak secara otomatis menunjukkan kemampuan ekonomi setiap rumah tangga.
Pertumbuhan Ekonomi Bukan Ukuran Tunggal Kesejahteraan
Angka pertumbuhan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) menggambarkan perkembangan aktivitas dan nilai tambah ekonomi suatu daerah. Namun, PDRB bukan ukuran langsung mengenai berapa besar pendapatan yang diterima setiap warga.
Karena itu, angka pertumbuhan 62,47 persen perlu dibaca bersama indikator sosial lainnya.
Ketika ekonomi tumbuh sangat tinggi, sementara pada tahun yang sama masih terdapat 5.610 penduduk miskin, maka terlihat adanya perbedaan antara indikator pertumbuhan ekonomi secara makro dengan kondisi sosial masyarakat.
Hal tersebut bukan berarti angka pertumbuhan ekonomi tidak penting.
Pertumbuhan ekonomi tetap menjadi salah satu indikator penting perkembangan daerah. Namun, angka tersebut perlu dilihat bersama tingkat kemiskinan, kemampuan memenuhi kebutuhan dasar, pola pengeluaran rumah tangga, serta kondisi kecukupan pangan.
PoU 19,03 Persen, Persoalan Kecukupan Pangan Masih Ada
Indikator lainnya terlihat dari sektor pangan.
Data ketidakcukupan konsumsi pangan tahun 2025 mencatat Prevalence of Undernourishment (PoU) atau prevalensi ketidakcukupan pangan di Halmahera Tengah sebesar 19,03 persen.
Indikator tersebut menggambarkan proporsi penduduk yang mengalami ketidakcukupan konsumsi energi pangan untuk memenuhi kebutuhan minimum.
Dengan angka 19,03 persen, persoalan kecukupan pangan masih menjadi salah satu indikator yang perlu diperhatikan dalam membaca kondisi sosial-ekonomi Halmahera Tengah.
Angka tersebut dilaporkan turun sekitar 0,4 poin persentase dibandingkan tahun sebelumnya. Namun, levelnya masih berada di kisaran 19 persen.
Membaca Dua Wajah Ekonomi Halteng
Jika seluruh angka tersebut diletakkan dalam satu rangkaian, terlihat dua sisi ekonomi Halmahera Tengah sepanjang 2025.
Di satu sisi, ekonomi daerah tumbuh sangat tinggi hingga 62,47 persen.
Di sisi lain, 9,16 persen penduduk, atau sekitar 5.610 jiwa, masih tercatat dalam kemiskinan.
Garis kemiskinan berada pada Rp647.982 per kapita per bulan, sementara rata-rata pengeluaran penduduk mencapai Rp2.216.767 per kapita per bulan.
Dari pengeluaran tersebut, kebutuhan nonmakanan mengambil porsi 52,59 persen, sedangkan makanan sebesar 47,41 persen.
Sementara itu, indikator ketidakcukupan pangan atau PoU masih berada pada angka 19,03 persen.
Rangkaian angka tersebut menunjukkan bahwa tantangan pembangunan Halmahera Tengah tidak hanya berkaitan dengan bagaimana mempertahankan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga bagaimana membaca dampaknya bersama indikator kesejahteraan masyarakat.
Persoalan berikutnya adalah bagaimana pertumbuhan ekonomi dapat berjalan beriringan dengan penurunan kemiskinan, peningkatan kemampuan masyarakat memenuhi kebutuhan dasar, serta perbaikan kondisi kecukupan pangan.
Dengan demikian, data tahun 2025 yang dipublikasikan BPS dan sumber statistik terkait hingga 2026 memberikan gambaran yang lebih utuh tentang kondisi Halmahera Tengah.
Ekonominya memang tumbuh meledak.
Tetapi di balik angka 62,47 persen itu, masih terdapat ribuan warga yang secara statistik hidup dalam kemiskinan dan persoalan kecukupan pangan yang masih perlu diperhatikan.
Pada akhirnya, ukuran keberhasilan pembangunan bukan hanya seberapa tinggi angka ekonomi tumbuh, tetapi juga bagaimana indikator pertumbuhan tersebut berjalan bersama perbaikan kesejahteraan masyarakat Halmahera Tengah.
(Editor: Rosa)

