Minggu, 6 Juli 2025. 23:02 WIT
HAL-TENG, PERS TIPIKOR.ID – Ini adalah kenyataan yang memalukan. Seorang ibu rumah tangga asal Desa Yendeliu, Kecamatan Patani, dengan lantang menyebut dua nama oknum pemilik proyek berbeda dalam pernyataannya yang disampaikan langsung di hadapan anggota Komisi II DPRD Halmahera Tengah, saat kunjungan kerja beberapa hari lalu.
Ibu ini berbicara jujur. Tanpa naskah. Tanpa rasa takut. Dan yang menyaksikan langsung pernyataannya bukan orang biasa—melainkan wakil rakyat. Namun, apa balasan yang ia terima? Dua orang yang dikonfirmasi Pers Tipikor, salah satunya justru menyebutnya tidak waras.
“Belum ada hasil dokter. Tapi dia sering marah sembarangan ketika lewat di depan rumahnya,” ujar salah satu dari mereka melalui pesan WhatsApp.
Tanpa dasar medis, tanpa bukti. Tuduhan seperti itu adalah bentuk nyata pelecehan terhadap warga kecil yang berani buka suara.
Ironisnya, anggota Komisi II DPRD yang menyaksikan langsung pernyataan ibu ini justru memilih diam. Tak ada klarifikasi. Entahlah apakah mereka mendukung terhadap suara rakyat yang disampaikan secara terbuka?
Padahal, jembatan yang dimaksud benar-benar rusak, meski belum lama dibangun. Fakta ini seharusnya cukup menjadi alarm bagi DPRD untuk menyelidiki lebih dalam: siapa pelaksana proyek itu, dan siapa yang berada di baliknya?
Namun, alih-alih ditindaklanjuti, pernyataan ibu ini malah dibungkam dengan stigma kejiwaan. Sebuah cara paling kasar untuk menjatuhkan karakter dan menutup ruang kebenaran.
“Dia tinggal tepat di samping jembatan. Tentunya dia tahu prosesnya dari awal. Pernyataan itu bukan halusinasi—ini bukti awal. Tapi karena yang bicara bukan pejabat atau tokoh elit, malah dituduh seperti itu.”
Respons yang diterima ibu ini mencerminkan wajah kekuasaan yang anti kritik dan menindas suara bawah. Ketika rakyat kecil bersuara dengan keberanian, mereka dibungkam dengan penghinaan.
Pers Tipikor.id akan terus menelusuri siapa yang bertanggung jawab atas proyek tersebut, termasuk nama-nama yang disebut dalam video. Sebab jika suara rakyat kecil seperti ibu ini dibungkam, maka demokrasi lokal di Halmahera Tengah sedang mengalami krisis serius.
Jika harga dari sebuah kebenaran adalah martabat seorang ibu, kita patut bertanya: siapa yang sebenarnya tidak waras? Mari kita buktikan—mungkin justru dia yang paling waras di tengah dunia yang terbiasa membungkam suara kecil.
(Editor: Rosa)


