Jum’at, 24 Oktober 2025. 22:09 WIT
HAL-TENG, PERS TIPIKOR.ID — Hujan deras yang mengguyur wilayah Kota Weda, Kabupaten Halmahera Tengah, pada Jumat sore, membuat sejumlah rumah warga tergenang air. Genangan terjadi di beberapa titik dalam kota, bahkan mencapai halaman dan dalam rumah warga.
Salah satu warga yang terdampak, Rusli mengaku kaget dengan kondisi tersebut. Ia mengatakan, kawasan sepanjang jalan Mushalla Nurul Huda, yang selama ini tidak pernah dilanda genangan, kini justru menjadi salah satu titik terparah.
“Pemerintah daerah, terutama dinas terkait, harus turun langsung melihat kondisi di lapangan. Bayangkan, rumah-rumah warga di tengah kota Weda bisa tergenang air begini,” ungkapnya kepada Pers Tipikor.id, Jumat sore.
Menurut warga, genangan air yang terjadi bukan hanya akibat curah hujan tinggi, tetapi juga karena dugaan tersumbatnya saluran air menuju laut, diduga setelah adanya aktivitas penimbunan proyek breakwater (pemecah ombak) di pesisir Kecamatan Weda.
“Dulu air cepat surut karena saluran masih terbuka ke arah pantai. Sekarang seperti tertahan,” tambahnya.
Warga menilai, kondisi ini harus menjadi perhatian serius pemerintah daerah dan DPRD Halmahera Tengah. Sebagai lembaga pengawas, DPRD diminta tidak hanya menunggu laporan dari dinas teknis, melainkan segera turun lapangan dan memanggil pihak-pihak terkait untuk mencari solusi konkret atas keluhan masyarakat.
“Kami berharap DPRD jangan hanya diam atau sekadar janji akan memanggil dinas. Kami ingin tindakan nyata. Harus ada solusi yang bisa segera dijalankan agar kejadian seperti ini tidak berulang,” tegas Rusli.
Masyarakat mendesak agar Komisi I DPRD Halmahera Tengah, yang membidangi pemerintahan dan infrastruktur, mengambil langkah cepat dengan memanggil Dinas PUPR serta pihak pelaksana proyek breakwater. Tujuannya jelas — mencari akar persoalan dan memastikan penataan saluran drainase kembali normal.
Sejumlah warga juga menilai, persoalan genangan air ini mencerminkan lemahnya koordinasi antarinstansi.
“Kalau DPRD bisa mempertemukan semua pihak — dari kontraktor, dinas, sampai masyarakat — pasti ada solusi. Karena persoalan ini bukan sekadar air menggenang, tapi soal tanggung jawab terhadap dampak lingkungan,” ujar warga lainnya.
DPRD diharapkan tidak menunda langkah tersebut, sebab keluhan warga terus meningkat dari tahun ke tahun. Setiap musim hujan, ancaman genangan semakin meluas tanpa penyelesaian yang jelas.
“Kalau sudah hujan, warga hanya bisa pasrah. Harapan kami, DPRD jangan tunggu viral dulu baru bergerak. Kami butuh bukti bahwa mereka benar-benar wakil rakyat,” tambah warga.
Tekanan publik terhadap DPRD kini semakin kuat. Warga menunggu bukti nyata bahwa lembaga legislatif ini mampu menjalankan fungsi pengawasan dengan tegas, memanggil dinas teknis, dan memastikan ada langkah nyata di lapangan. (Editor: Rosa)


