Home / Inspirasi

Sabtu, 26 November 2022 - 21:00 WIB

Ketua Tim Evakuasi Mayat Sulsel Waktu Tsunami Aceh Sempat Kehabisan Jatah Dapur Umum di Zainoel Abidin. Apa Sebabnya?


Minggu (9/1/2005) malam, Dapur Umum Relawan Sulsel di Rumah Sakit (RS) Zainoel Abidin, geger. Seperti hari sebelumnya, setelah matahari terbenam, relawan Sulsel kumpul melepas stress di lantai dua rumah sakit.

Tim Evakuasi Mayat biasanya melakukan rapat evaluasi tentang hasil kerja seharian dipimpin Andi Muhammad Taqwa Yunus.

Di saat istirahat seperti itulah, biasanya datang panggilan lewat pengeras suara (Airphone), “Makan, makanan sudah siap.” Tanpa menunggu panggilan selanjutnya, segera anggota relawan “berhamburan” ke dapur umum yang di ujung lantai dasar RS Zainoel Abidin.

Taqwa Yunus memilih istirahat setelah memimpin rapat evaluasi. Hingga sebagian besar anggota tim sudah makan, Taqwa masih asyik tidur.

Sekitar pukul 10.30 WIB, sejumlah relawan Jepang mendekati posko. Tak ada yang berani mengajaknya ngobrol. Petugas dapur umum Sulsel pun hanya tertunduk, “Please!,” katanya mempersilakan mereka makan.

Tanpa banya komentar, sambil tersenyum, tim relawan dari Jepang itu segera menyambar piring dan melahap nasi putih, ikan goreng kering, plus sayur asam, “made in” tim dapur umum Sulsel. Usai makan, Mitsuo, relawan yang mengaku utusan Universitas Kyoto Jepang bercerita dalam Bahasa Inggris.

Dia mengaku diutus universitasnya sebagai tenaga medis di Aceh. Dia datang bersama sejumlah teman-temannya yang lain. Malam itu, mereka tidur di lantai II, RS Zainoel Abidin. Mitsuo bercanda dengan relawan Sulsel hingga pukul 11.30 WIB. Setelah itu dia meninggalkan tempat ke lantai II. Dia tidur di dekat pintu WC RS tersebut.

Tengah malam, Taqwa bangun. “Kambie, bagaimana kalau kita cari makan,” katanya. “Ayo,” jawabku. Lalu dia meminta Gajah Mada, Komandan Regu Evakuasi (Danru) Tim Sulsel, “mengintai” kondisi dapur umum. “Siap, Komandan,” jawab Gajah mantap, lalu segera meluncur ke dapur umum.

READ  Tim Evakuasi Mayat ataukah Tim Penyapu Mayat Tsunami dari Sulsel For Aceh?

Tak lama berselang, Gajah kembali datang tergopoh-gopoh. “Siap komandan, persediaan makanan habis. Nasi banyak, tapi ikan dan sayur sudah habis,” kata Gajah dengan suara lantang.
Suara seperti itu memang selalu diperdengarkan kelompok tim ini.

“Kenapa bisa habis,” tanya Taqwa.
“Bagaimana tidak habis, Komandan. Tadi beberapa relawan Jepang ikut makan,” jawab Gajah.

Dapur umum Sulsel memang terbuka untuk umum. Bukan hanya relawan dalam negeri, seperti dari Jakarta dan Sumatera Selatan, yang kerap ikut makan. Relawan Australia, Cina, Spanyol, dan Jepang pun kadang ikut membaur, makan bersama.

Pasien di RS juga ikut ditanggung makannya. “Kita alokasikan dana sebesar Rp 2 juta per hari untuk makanan 200 pasien,” jelas Prof Dr Idrus Paturusi, Penasihat Tim Sulsel Peduli Aceh.(*)

Judul asli :  https://makassar.tribunnews.com/2017/12/27/catatan-kecil-relawan-sulsel-dalam-tsunami-aceh-mengapa-sspa-disebut-pasukan-sapu-bersih?page=all, Penulis: AS Kambie

Share :

Baca Juga

Daerah

Fatmawati Rusdi Edukasi Ibu Balita Di PKM Bontoala, Cegah Stunting

Daerah

Pasca Terjadinya Longsor di Parangloe, Warga dan Tim Gabungan Kembali Temukan 2 Korban Jiwa

Inspirasi

KPK Dorong 12 Instansi Kompak Tegakkan Hukum Sektor SDA

Hukrim

Andi Johan tak Bisa Hadir Reuni, Muhammad Al Ikrar KSR  Unhas Mulai Bertestimoni

Daerah

Kakak Beradik Kecamatan Weda, Galang Dana Kemanusiaan.

Inspirasi

Demi Melayani Dengan Humanis, Polemik Program S3 FEB Unhas Akhir Damai

Hukrim

IKA SMPN Siwa Gelar Reuni Akbar, Panpel Anugerahkan Educational Award untuk Guru, Tokoh dan Saudagar

Daerah

Undangan Masyarakat, “Pj Bupati Hadiri Peringatan Isra Mi’raj 1445 H/2024 M”.

You cannot copy content of this page