Jum’at, 3 Juli 2026.00:19 WIT.
Oleh: Husain Munawar.
HAL-TENG, PERS TPIKOR.ID- Kemunculan buaya di kawasan Pelabuhan Weda dan pesisir Kota Weda bukan lagi sekadar peristiwa yang mengundang perhatian masyarakat. Fenomena ini patut dipandang sebagai alarm ekologis yang memerlukan perhatian serius. Bukan karena keberadaan buaya semata, melainkan karena kemunculannya di kawasan yang padat aktivitas manusia dapat menjadi indikator bahwa terjadi perubahan pada ruang hidup satwa liar.
Selama ini, perhatian publik lebih banyak tertuju pada pertanyaan bagaimana cara mengusir atau menangkap buaya yang muncul di sekitar pelabuhan. Padahal, pertanyaan yang jauh lebih mendasar adalah: mengapa buaya kini semakin sering memasuki kawasan yang didominasi aktivitas manusia?
Dalam ilmu ekologi, konflik antara manusia dan satwa liar umumnya terjadi ketika habitat alami mengalami tekanan. Perubahan bentang alam, menurunnya kualitas lingkungan, berkurangnya sumber makanan, meningkatnya aktivitas manusia, hingga perubahan kondisi hidrologi dapat mendorong satwa liar keluar dari habitat alaminya untuk mencari ruang hidup yang lebih sesuai.
Di sisi lain, perlu dipahami bahwa buaya muara merupakan predator yang secara alami mampu menjelajah cukup jauh melalui sungai maupun perairan pesisir.
Karena itu, kemunculan buaya di kawasan permukiman atau pelabuhan tidak selalu disebabkan oleh satu faktor tertentu. Pergerakannya dapat dipengaruhi oleh berbagai kondisi, mulai dari perubahan habitat, ketersediaan mangsa, musim, hingga perilaku alaminya. Justru karena banyaknya kemungkinan tersebut, fenomena yang terjadi di Weda perlu dikaji secara ilmiah, bukan sekadar diperdebatkan melalui asumsi.
Pertanyaan tersebut menjadi semakin relevan ketika kondisi Sungai Kobe telah lama menjadi perhatian publik. Penelitian yang dilakukan oleh Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) menunjukkan bahwa kualitas air Sungai Kobe mengalami penurunan berdasarkan metode STORET, salah satu metode penilaian mutu air yang digunakan di Indonesia. Temuan tersebut mengindikasikan bahwa kondisi sungai mengalami tekanan terhadap kualitas lingkungannya.
Selain itu, hasil pengujian yang pernah dipublikasikan oleh Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Maluku Utara juga menunjukkan bahwa beberapa parameter kualitas air Sungai Kobe telah melampaui baku mutu, di antaranya tingginya kadar Total Suspended Solid (TSS) dan kandungan coliform. Parameter tersebut merupakan indikator penting yang menunjukkan bahwa kualitas lingkungan sungai memerlukan pengawasan dan upaya pemulihan secara berkelanjutan.
Apakah kondisi Sungai Kobe menjadi penyebab langsung buaya berkeliaran hingga ke Pelabuhan Weda?
Hingga saat ini belum ada penelitian yang menyimpulkan adanya hubungan sebab-akibat secara langsung. Karena itu, menyatakan bahwa pencemaran sungai merupakan penyebab utama kemunculan buaya tentu tidak tepat secara ilmiah.
Namun demikian, dugaan bahwa perubahan kualitas habitat dapat memengaruhi pola pergerakan satwa liar merupakan hipotesis yang sangat layak diteliti. Dalam dunia sains, tidak adanya kesimpulan bukan berarti tidak ada persoalan. Justru kondisi seperti inilah yang menuntut hadirnya penelitian yang lebih komprehensif agar kebijakan yang diambil benar-benar berbasis data.
Yang lebih mengkhawatirkan adalah apabila fenomena ini dianggap sebagai kejadian biasa. Kehadiran predator puncak di kawasan pelabuhan bukan sekadar persoalan keselamatan masyarakat, tetapi juga dapat menjadi sinyal bahwa ekosistem yang menopang kehidupan di wilayah tersebut sedang mengalami perubahan yang perlu dipahami secara serius.
Oleh karena itu, Pemerintah Kabupaten Halmahera Tengah, Pemerintah Provinsi Maluku Utara, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA), Dinas Lingkungan Hidup, akademisi, serta seluruh pihak yang berkepentingan perlu segera melakukan investigasi ekologis secara menyeluruh dan independen. Masyarakat berhak mengetahui bagaimana kondisi terkini Sungai Kobe, bagaimana kualitas airnya, bagaimana kondisi habitat satwa liar, serta apakah terdapat faktor-faktor yang memengaruhi perubahan perilaku buaya.
Di sisi lain, masyarakat juga tidak boleh memilih diam.Kerusakan lingkungan bukan hanya menjadi urusan pemerintah, perusahaan, atau aktivis lingkungan. Ini adalah tanggung jawab bersama. Ketika sungai kehilangan kualitasnya, bukan hanya ikan yang terdampak. Nelayan kehilangan hasil tangkapan, masyarakat kehilangan sumber air yang sehat, satwa kehilangan habitatnya, dan pada akhirnya manusia berhadapan langsung dengan konflik yang berakar pada rusaknya ruang hidup.
Pembangunan ekonomi melalui sektor pertambangan memang memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan daerah.
Namun pembangunan tidak boleh mengorbankan keberlanjutan lingkungan hidup. Investasi yang baik adalah investasi yang mampu berjalan berdampingan dengan kelestarian alam, bukan yang meninggalkan persoalan ekologis bagi generasi mendatang.
Masyarakat Halmahera Tengah harus terus mengawal persoalan ini secara kritis, objektif, dan berdasarkan data. Jangan biarkan kemunculan buaya hanya menjadi berita sesaat yang kemudian dilupakan. Sebab, bisa jadi yang sedang kita saksikan hari ini bukan sekadar seekor buaya yang keluar dari sungai, melainkan sebuah peringatan bahwa keseimbangan ekosistem sedang mengalami tekanan.
Sudah saatnya pemerintah memberikan perhatian yang lebih serius terhadap kondisi Sungai Kobe dan ekosistem pesisir Weda melalui penelitian yang independen, pemantauan kualitas lingkungan secara transparan, serta penegakan hukum apabila ditemukan adanya pelanggaran terhadap ketentuan perlindungan lingkungan hidup.
Pada akhirnya, pertanyaan yang harus kita ajukan bukan hanya bagaimana mengusir buaya, melainkan apa yang sedang terjadi pada habitat yang mereka tinggalkan.
Karena ketika sungai kehilangan kehidupannya, bukan hanya satwa yang kehilangan rumah. Manusialah yang pada akhirnya akan menanggung akibatnya.
(Penulis:Husain Munawar)
(Editor: Rosa).


