Senin, 13 Oktober 2025. 19:30 WIT.
HAL-TENG, PERS TIPIKOR.ID — Pernyataan tegas datang dari mantan Ketua KMMDK (Kerukunan Muda-Mudi Desa Kiya), Fahrul Musa, yang juga dikenal sebagai tokoh masyarakat Desa Sagea-Kiya, Kecamatan Weda Utara, Kabupaten Halmahera Tengah. Ia mengecam keras tindakan pengrusakan dua unit mobil milik warga yang dilakukan oleh pihak perusahaan PT. MAI menggunakan alat berat ekskavator.
Menurutnya, tindakan tersebut bukan sekadar pelanggaran biasa, melainkan bentuk anarkisme yang terang-terangan dan mencoreng martabat rakyat Sagea-Kiya.
“Bagi saya, pengrusakan dua unit mobil warga oleh pihak perusahaan PT. MAI dengan ekskavator adalah tindakan yang dilakukan dengan kesengajaan nyata. Ini gambaran perilaku anarkis. Mereka seakan-akan tidak menganggap bahwa di belakang rakyat ada pemerintah sebagai pengatur,” tegas Fahrul.
Ia menilai, sikap arogan perusahaan itu tidak hanya melecehkan warga, tetapi juga merusak hubungan sosial yang selama ini damai dan harmonis di antara masyarakat Sagea-Kiya.
“Mereka datang mencari hidup di sini, tapi tidak tahu diri. Mereka sebenarnya seperti virus yang mengancam kestabilan keamanan sosial yang tumbuh di tengah masyarakat Sagea-Kiya,” lanjutnya.
Fahrul juga menegaskan bahwa sebelum kehadiran perusahaan asing, masyarakat Sagea-Kiya hidup penuh toleransi dan kedamaian, dengan kesadaran tinggi akan nilai-nilai kebangsaan.
“Kami satu rumpun, satu garis keturunan, dan selalu menjunjung tinggi rasa hormat terhadap pemerintah. Kami sadar desa kami bagian dari NKRI, bukan desa di luar negara,” katanya menegaskan.
Oleh karena itu, ia menyerukan kepada pemerintah, baik daerah maupun pusat, untuk tidak tinggal diam terhadap tindakan perusahaan yang dinilainya telah melecehkan otoritas pemerintah dan menodai kewibawaan negara.
“Tindakan PT. MAI merusak dua unit mobil warga adalah bukti nyata tindakan buruk dan anarkis. Mereka tidak menghargai rakyat, dan secara terang-terangan tidak menghormati pemerintah sebagai pelindung dan pengatur rakyat,” ujarnya.
Fahrul pun mendesak agar pemerintah turut merasakan kemarahan rakyat Sagea-Kiya dan mengambil langkah tegas, termasuk mempertimbangkan untuk mengusir perusahaan yang telah merugikan masyarakat.
“Sudah sepantasnya pemerintah tersinggung dengan tindakan anarkis perusahaan. Dukung amarah rakyat Sagea-Kiya untuk menolak dan mengusir perusahaan yang hanya membawa kerugian bagi warga,” pungkasnya.
Selain itu, Fahrul juga menekankan pentingnya tanggung jawab perusahaan untuk mengganti kerugian atas dua unit mobil warga yang dirusak.
“Pemerintah daerah harus mendesak pihak perusahaan untuk mengganti dua mobil yang mereka rusaki. Jika perusahaan menolak dan tidak mengganti, kami pastikan akan ada aksi-aksi yang lebih besar,” tegas mantan Ketua KMMDK itu.
(Editor: Rosa).






